Subscribe
FPBI | FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA – KESATUAN PERJUANGAN RAKYAT
  • HOME
  • OPINI
  • ADVOKASI
  • KEGIATAN
  • GALLERY
  • HOME
  • OPINI
  • ADVOKASI
  • KEGIATAN
  • GALLERY
No Result
View All Result
FPBI | FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA – KESATUAN PERJUANGAN RAKYAT

Rebut Demokrasi, Bangun Kekuatan Politik Rakyat

by Suara Perjuangan Buruh
June 27, 2024
in Berita
303 19
1k
SHARES
5.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Peringatan 26 Tahun Runtuhnya Soeharto

Jakarta – Pada 21 Mei 2024, terhitung 26 tahun Soeharto telah turun dari jabatannya. Namun, jejak dosa terdahulunya masih terus diwariskan dari satu kepemimpinan kepada kepemimpinan lain di Indonesia. Oleh karena itu, Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) mengadakan Mimbar Demokrasi di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia pada 21 Mei 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk menyuarakan korban-korban kekerasan Soeharto dan pemimpin-pemimpin yang mewarisi sikap anti-demokrasi oleh lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil di Indonesia.

“Kita tahu hak berdemokrasi saat orde baru itu sangat sedikit. Ketika ada orang orang dari gerakan rakyat ingin menyuarakan keinginannya, dibungkam” ujar Sunarno, Pimpinan Kolektif Gebrak

Sejak runtuhnya Soeharto, harapan masyarakat Indonesia untuk berdemokrasi nampaknya masih jauh dari harapan. Hal tersebut terbukti dari adanya penyusutan ruang-ruang demokrasi partisipatif yang ada di Indonesia. Seperti yang dilaporkan oleh KONTRAS, sejak Januari 2022 hingga Juni 2023 saja sudah terdapat 183 pelanggaran kebebasan berekspresi yang menghasilkan 272 korban luka-luka, 3 meninggal dunia, dan 957 orang ditangkap. 

Amnesty International pun mencatat bahwa tahun 2023 merupakan tahun dengan kasus serangan fisik tertinggi terhadap pembela HAM sejak tahun 2019 silam. Hal tersebut terlihat dari adanya  95 kasus serangan terhadap pembela HAM yang menghasilkan 268 korban dari berbagai kelompok masyarakat sipil, seperti jurnalis, masyarakat adat, mahasiswa, aktivis papua, petani dan aktivis HAM, perburuhan, dan lainnya. Bahkan, People’s Water Forum pun dipaksa bubar dan panitianya diretas. Hal ini menandakan warisan anti-demokrasi yang dibangun oleh Soeharto masih terasa hingga saat ini. 

“Saat ini, kehidupan demokrasi masih dihambat, mulai pembubaran People’s Water Forum, union busting, penggerebekan asrama Papua, dan perubahan undang-undang yang menjadi legitimasi penghambatan demokrasi. Hal ini menandakan kerusakannya bukan kerusakan individual, melainkan sistemik” Isnur, Ketua YLBHI.

GEBRAK pun mengamati semakin menguatnya warisan anti demokrasi ini. Hal tersebut terlihat dari  diberangusnya  suara buruh, jurnalis  dan kelompok masyarakat sipil lainnya dalam menyuarakan haknya. Ditambah lagi, mahasiswa penerus generasi bangsa dipaksa terjerat utang untuk membayar uang kuliah tunggal dan iuran pengembangan institusi yang semakin tidak masuk akal sehingga waktu untuk berpikir kritis akan digantikan dengan waktu bekerja untuk membayar utang. 

Situasi-situasi tersebut menandakan adanya penurunan kualitas demokrasi di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Marcus Mietzner, seorang akademisi, menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia sedang mengalami penyusutan melalui cara-cara yang tidak terlalu terlihat dan terjadi di berbagai kelompok elit politik.  Oleh karena itu, kita perlu melakukan aksi kolektif untuk menguatkan demokrasi di Indonesia. 

“Kita semua sudah berupaya melakukan advokasi hak hak rakyat, dan kemarin kita juga tahu, pasca dua kali periode rezim Jokowi justru banyak kebijakan yang buruk, seperti Omnibus Law yang bukan hanya berdampak pada buruh, tapi juga yang lain” Ungkap Sunarno, Pimpinan Kolektif GEBRAK. 

Berkaca dari hal tersebut, GEBRAK ingin merangkul semua serikat buruh maupun organisasi masyarakat sipil lainnya untuk membangun kembali kekuatan politik rakyat dalam merebut demokrasi untuk mengubah sikap otoritatif pimpinan di Indonesia. Dalam momen Mimbar Demokrasi ini, lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil menyerukan:

  1. Hidupkan kembali demokrasi partisipatif di Indonesia. 
  2. Berikan hak hidup yang layak bagi kelompok perempuan, buruh, petani, masyarakat adat, dan pekerja kampus, dan buruh perikanan
  3. Berikan hak atas pendidikan dan batalkan kenaikan harga UKT
  4. Cabut semua aturan otoritatif pemerintah seperti Omnibus Law
  5. HentikanProses Pengesahan RUU Penyiaran
  6. Lindungi kebebasan berpendapat, jurnalisme, dan aktivisme di Indonesia
Share408Tweet255Pin92Scan
Previous Post

SOLIDARITAS DAN PERSATUAN KAUM BURUH KEMBALI MEMBUAHKAN HASIL: PENGURUS PTP FPBI PT SINTERTECH INDONESIA YANG DI-PHK SEPIHAK DIPEKERJAKAN KEMBALI

Next Post

Lirik Lagu Pasukan Rakyat Merdeka Red Squad FPBI

Next Post

Lirik Lagu Pasukan Rakyat Merdeka Red Squad FPBI

Lirik Lagu Satukanlah

Facebook Twitter Pinterest


Taman Buaran Indah III - Blok D/5

Duren Sawit - Jakarta Timur

FPBI CALL CENTER

Call : (021) 86602636. WA : +62813-1703-4210

Jam operasional layanan call center :
Senin – Jum’at (kecuali libur nasional)
pukul 08.00 – 16.00 WIB

FPBI Call Center

Recent News

SELAMAT BERGABUNG DI KELUARGA BESAR FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA

June 27, 2024

FPBI Secara Tegas Tolak Kebijakan TAPERA

June 27, 2024

@2024 - FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
No Result
View All Result
  • Advokasi
  • Gallery
  • Home 1
  • Kegiatan
  • Opini

@2024 - FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA