
Di sela sela waktu istirahat agenda RakerNas I Kesatuan Perjuangan Rakyat (14/01) Jakarta, SPB News, Muslim Silaen berkesempatan berbincang dengan salah satu buruh inspiratif, dia Herman Abdulrohman yang akrab dipanggil kang Uyuhan. Lelaki berusia 36 tahun ini berkisah sepenggal hidupnya, sejak mulai bekerja sebagai buruh kemudian bagian dari korban PHK sampai menjadi ketua umum organisasi buruh Nasional.
Berlokasi di Sekretariat pusat Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) Jakarta, SPB News berbincang dengan bapak satu anak itu. Herman sejak belasan tahun bekerja sebagai buruh pabrik dengan berstatus kontrak outsourcing dan kini aktif di organisasi buruh.
Herman bekerja menjadi seorang buruh pabrik dengan status kontrak outsourcing sejak tahun 2004. Pekerjaan itu ia geluti hingga tahun 2015 karena akhirnya menjadi korban PHK, “Saya datang dari daerah. Mengundi nasib ke kota untuk perbaikan ekonomi bermula menjadi buruh di sebuah rumah sakit swasta lalu pindah kerja di salah satu restoran ternama di wilayah Jakarta Utara dan sempat merasakan bekerja di sektor perhotelan dan mentok menjadi buruh pabrik,eh malah di PHK.”
Herman kembali berkisah.Selama menjadi buruh pabrik,baru pada tahun 2012 mulai bergabung dan aktif dalam serikat buruh. Pada tahun 2016, Herman kemudian dipercaya terpilih menjadi ketua umum serikat buruh, yaitu Federasi FPBI.
Mengenang situasi kerja pada 15 tahun lalu.
Tahun 2004 menjadi awal bagi laki-laki yang akrab di panggil kang Uyuhan ini mulai bekerja sebagai buruh pabrik industri di salah satu perusahan yang bergerak dalam komponen automotif dengan status PKWT alias kontrak, berproses sebagai buruh dengan beban pekerjaan yang sangat berat belum lagi pelindung keselamatan kerja yang minim jadi penyebab tingginya angka kecelakaan kerja banyak temannya sesama buruh yang kehilangan anggota tubuhnya dan jangankan bonus sekedar cuti tahunan pun tiada, termenung kalau mengenang kondisi kerja saat itu.
“Awal-awal bekerja dulu sangat suram, Upah pokok saya saat itu masih Rp 400.000 per bulan,”tutur Herman.
Tentu saja hal ini dirasa sangat pas-pasan jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Kalau diingat-ingat waktu itu, Upah biasa kita pakai bayar sewa kontrakan Rp 150.000 per bulan, Transpot Rp 50.000 perbulan, Beli makan 5.000 untuk sekali makan,dll. Selain biaya itu, menyisihkankan uang untuk kirim orang tua di kampung. Makanya suram amat kalau dulu, Jauhlah dari kata layak dan mencukupi,” kenang Herman.
Mencari Alat Perjuangan
Tahun demi tahun keadaan nasib Herman dan kawan-kawan tak kunjung membaik walau upah ada sedikit kenaikan, tapi tak pernah bertahan lama karena akan segara diikuti naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan lainnya sementara kepastian status hubungan kerja yang selalu dijanjikan tak kunjung direalisasikan.
“saya selama kerja sudah empat kali di pindah yayasan berputar-putar disitu aja” kata Herman.
Sepanjang bekerja kang uyuhan waktu itu karena sering mengalami kekurangan bayar upah dan situasi dalam pabrik banyaknya terjadi kecelakaan kerja, ditambah jatah makan yang tak layak belum lagi target pekerjaan yang terus-menerus dinaikan karena kondisi yang memaksa mereka para buruh mulai ada berani menyampaikan keluh kesahnya pada pihak managemen perusahaan.
“Kawan saya satu bagian di Dept.Quality Control menanyakan kekurangan bayar upah lemburnya, bukan di bayar kekurangan upahnya eh malah kemudian dihabisi kontrak kerjanya dan dikembalikan ke yayasan”. Sambung Herman pada SPB News .
Menurutnya pada akhir tahun 2011, dia sudah merasakan gejala menguatnya gerakan buruh di kabupaten bekasi khusus di kawasan industri Jababeka II, sambil membakar sebatang rokok beliau melanjutkan obrolan.
“Saat itu sedang mengechek material yang baru datang dikirim tiba-tiba dari arah sebelah kiri pabrik saya dan satu orang security mendengar raungan suara knalpot motor dan melihat seribuan orang dengan bendera warna warni dan motor melakukan konvoi keliling kawasan, sesuai dengan arahan saya melapor pimpinan dan keluar gerbang dengan membawa beberapa karton air minum kemasan kemudian segera membagikannya kepada para demonstran sementara itu para kepala bagian sibuk atur siapkan beberapa buruh untuk ikut bergabung dengan massa diluar, waktu itu saya masih berfikir bagaimana agar pabrik aman, tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan perusahaan sesuai arahan manager dan pimpinan perusahaan. Herman berkisah sambil membuang asap rokok ke udara.
Beberapa kesempatan sepulang kerja Herman sering menyaksikan serikat buruh sedang melakukan konsolidasi disebuah lapangan yang berada di pojok kawasan
“Sore itu saya pulang kerja berjalan kearah kontrakan dan melihat ada sekitar ratusan orang masih dengan sergam pabriknya sedang berkumpul di sudut lapangan yang berada diujung kawasan perbatasan dengan kampung”. Herman mencoba membawa gambar situasi yang diingatnya, kemudian melanjutkan.
“Waktu itu sering dilakukan brefing, perusahaan memang gelisah dan ketakutan saat itu, pernah dalam satu rapat koordinasi yang dihadiri semua struktur departemen produksi, pimpinan perusahaan menyampaikan amanatnya, dia bilang gini lim Kalian jangan sampai terpengaruh oleh situasi diluar apalagi melakukan tindakan yang dapat merugikan perusahaan pun diri sendiri, bekerjalah dengan sunguh-sungguh kalau tidak nanti kalian bisa cari kerja sunguh-sunguh, mulai senin depan lakukan brifing dibawah untuk kontrol situasi, tapi kesini-sini baru tahu namanya kontradiksi, itu juga abis belajar di organisasi. Keadaan saat itu justru nyatanya kegelisahan buruh tidak lagi bisa di bendung akibat banyak pernyataan yang disampaikan pihak perusahan tidak sesuai realitasnya bahkan cenderung selalu menyudutkan pihak buruh situasinya bagai api dalam sekam dan menjembatani perlawanan buruh waktu itu, harus diakui suasana pergerakan buruh saat itu juga mempengaruhi buruh yang belum berserikat sekalipun.”Herman kembali panggil ingatannya.
Satu minggu setelah libur lebaran idulfitri tahun 2012 Herman bersama 12 orang kawannya yang mayoritas menjabat sebagai leader dipanggil untuk menghadap HRD dan mendapatkan kenyataan pahit, herman dan temannya diskorsing sementara untuk beberapa bulan dan setelah itu akan kembali di panggil masuk kerja ketika ditanya apa yang menjadi alasannya penjelasan HRD,
Kami sedang menyelesaikan beberapa masalah di internal perusahaan”. Kata HRD
“Saya mengira waktu itu ini akibat dari konspirasi yang terjadi dalam pabrik ada kepala bagian di Dept.Maintenance yang hendak memaksakan membentuk serikat boneka dan kami menolaknya. Dua bulan lebih telah berlalu alih-alih kembali di panggil masuk kerja, malah dalam pertemuan dengan manager perusahaan memberikan penjelasan kalau mereka saat itu sudah tidak dibutuhkan dan dikembalikan kepihak yayasan.”
Merasa tidak ada alasan yang jelas akhirnya forum itu memanas, dan satu persatu para mantan leader malang itupun bertanya apa yang menjadi sebab di PHK penjelasan HRD dan Manager bahwa mereka managemen telah pegang bukti kalau ada yang sedang membangun serikat dalam perusahaan selembar absensi tulis tangan hasil konsolidasi dengan salah satu serikat buruh di sudut kawasan Ejip.
“Waktu itu saya seperti di tikam dari belakang merasa dihina tanpa sebab musabab dibuang begitu aja padahal sudah bekerja belasan tahun, waktu itu perasaan terhina harga diri, karna ditipu mentah-mentah, terutama saya tidak ada dalam pertemuan itu.” Kenangnya.
Derita semakin dia dan kawan-kawannya rasakan ketika mendapati para petugas Dinas ketenagakerjaan yang tidak merespon permasalahaannya dengan baik dan acuh tak acuh,
“saya sangat kecewa waktu itu dan muak melihat sikap mereka yang angkuh,ini seperti bukan kantor ketenagakerjaan yang melindungi buruh”. Herman cerita
Kemudian dia dihampiri salah satu petugas lain yang berada diruangan itu, “Petugas itu sudah agak tua rambutnya memutih dia menyarankan saya dan kawan-kawan untuk bergabung dengan serikat buruh dan kembali lagi, ini bukan kantor polisi tegasnya”. Herman berkisah.
Tidak gampang menyerah itulah sifatnya Herman. Dia bersama kawan-kawannya yang gagal mendapatkan perlindungan dari Dinas Ketenagakerjaan kemudian mulai menyambangi satu persatu serikat buruh berharap ada yang mau merangkul dan memberikan solusi terhadap nasib yang menimpanya, sayang sampai saat itu selalu mentok ditengah jalan, karena melihat bahwa organisasi yang didatangi tidak memberikan jawaban yang diinginkan.
“Saya sudah coba datangi banyak serikat buruh dari bermacam bendera tapi hasilnya nihil belum ada yang mau merangkul, dan yang lainnya terlalu memberatkan dari mulai minta adminitrasi/dana perjuangan yang cukup besar, adalah yang mau menerima namun harus ada 50%+1 jumlah calon anggota dari total karyawan, ada juga yang meminta syarat tak masuk diakal. Saya punya cerita yang masih teringat sampai sekarang waktu itu bersama kawan-kawan saya datang kesalah satu kantor serikat buruh, setelah mendaftar di buku tamu dan mendapatkan nom urut ke 60 dan sekarang saya dengan kawan-kawan ini sudah di PHK sepihak padahal sudah belasan tahun bekerja dipabrik itu,kami datang kesini berharap bisa diperjuangan masuk kerja lagi. tiba-tiba seseorang menyela makanya bung jadi buruh harus cerdas !, sudah di PHK baru mau bentuk serikat belasan tahun kemana aja bung, kata orang yang kemudian hari saya temui di agenda konsolidasi di kabupaten bekasi. Saya sampaikan bahwa pernah ikut konsolidasi beberapa kali di lapangan dan orang tersebut tak lagi bicara, salah satu dari mereka kemudian mengarah supaya kami menggunakan jalur profesional mengusahakan kasus pada pengacara organisasi tersebut dan membayar biaya operasional sebesar Rp 5 juta perorang dan persentasi 20% dari besaran pesangon, boro-boro untuk bayar 5 juta buat makan saja kita dari kebaikan kawan-kawan yang masih bekerja karena di anggap tidak memungkinkan konsolidasinya cukup distu”. Herman sambung ceritanya.
Datangnya pertolongan dari Tuhan sang Maha Kuasa tak pernah disangka-sangka, ternyata waktu herman dan teman-temannya berkumpul untuk saling curhat soal kontrakan yang sudah habis, didesak untuk balik kampung oleh keluarga, dan persoalan lain yang dirasakan setelah di PHK, dan
Waktu itu kami belum tahu apa itu konsolidasi, tetapi kami memang sedang mempraktekkan itu ternyata, tetapi dalam satu malam saya lagi kumpul bareng kawan-kawan yang ter PHK dan beberapa kawan yang masih bekerja tapi kami, disela kami berdiskusi dengan kawan-kawan yang dalam keadaan semakin terdesak karena beberapa kawan yang tinggal dikontrakan sudah diusir karena terlalu banyak menunggak uang sewa, pemilik warung di sekitar kontrakan yang biasa tempat belanja sehari-hari mendadak tak lagi percaya mau memberi hutang walau sekedar untuk kebutuhan makan sementara saya sendiri terus dihubungi keluarga untuk segera balik ke kampung padahal hasrat untuk terus berjuang mencari kebenaran begitu besar dan untuk tetap bertahan saya menjual barang-barang elektronik yang tersisa dikontrakan. Lebih lanjut kami membicrakan perkembangan karena rencana perusahan akan membuang 40 orang yang pernah terlibat dalam rencana pembentukan serikat, tak di duga-duga saya kedatangan kawan yang sudah lama pindah kerja ke pabrik lain di kawasan Jababeka I dia menyarankan tuk bergabung dengan salah satu serikat buruh bernama FPBJ dan mengajak datang ke tempatnya yang sedang menguasai satu pabrik yaitu Bhiunghua Indonesia”. Herman kepada SPB News.
Tak mau melewatkan kesempatan Herman dan kawan-kawan datang menemui serikat buruh yakni FPBJ di kawasan JB I, sesampainya di tempat yang dimaksud Herman dan kawan-kawan seperti biasa langsung menyampaikan maksud dan tujuannya
“Waktu mendatangi pengurus FPBJ kami tidak ditemani oleh kawan yang memberikan usulan itu, maka kami datang sendiri, kesan awal sangat berbeda dari sebelumnya kami disambut begitu hangat penuh kekeluargaan, padahal awalnya kami ragu, melihat, masa sih orang organisasi keliatan tidak berwibawa, dekil dan perawakannyanya pun terkesan mengerikan, tetapi karena sudah terdesak kami memberanikan diri untuk mendatangi dan walau pun terlihat aneh dengan beberapa penampilan orang-orang itu kami berharap pada saat itu mudah-mudahan menjadi jawaban dan jalan keluar, dan pada saat itu kami menemui Pak sekjend sekarang, sukanti yang waktu itu masih jadi Dept.Litbang, Advokasi FPBJ, kami disuruh mengikuti diskusi di pabrik yang sedang di kuasai buruh itu. Ternyata isi diskusinya sangat jauh dari apa yang kami bayangkan, tidak ada pembahasan soal UU ketenagakerjaan, namun malah bahas Ekopol, Kapitalisme, dan beberapa kawan sempat ragu lo, tapi sebagian meyakinkan untuk ikut saja dulu, dan ternyata itu adalah materi penting kemudian yang saya rasakan, kami jadi tahu bahwa para penindas itu sistematis menghisap kami.
Pencarian jalan yang begitu panjang telah membuahkan hasil, Herman dan kawan-kawan berhasil membangun alat perjuangan serikat buruh bergabung dengan Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek beberapa hari setelah konferensi dan pembentukan struktur pencatatan serikat pun keluar.
” Waktu kami mendapat informasi sudah keluarnya Surat pencatatan dan kami mendatangi sekretariat FPBJ, karna kami tidak mengetahui sama sekali soal perjuangan buruh dan diberi arahan untuk datang ke pabrik dan bekerja seperti biasa. Dengan modal surat pencatatan sebagai legitimasi dan kekuatan hukum saya bersama-sama yang lain pada akhirnya memiliki kepercayaan diri kembali hingga berhasil mendobrak kabut gelap dan melawan segala ketakutan sendiri kembali masuk kerja dan membangun organisasi di dalam pabrik. Dan saya menemukan apa yang saya cari, dan memberikan kepuasaan saya tersendiri karena sudah dapat menjemput kebenaran yang di langkahi oleh pemimpin perusahaan saya saat itu” Cerita Herman sambil mematikan rokoknya.
Diberi amanah menjadi Ketua Umum.
Bagi Herman alias kang Uyuhan dipercaya oleh kawan-kawan untuk menjadi seorang ketua umum sekaligus sebagai corong politik dari sebuah organisasi serikat buruh itu memang tidaklah mudah tapi dengan mau belajar tak ada yang tak mungkin. Satu prinsip siap dipimpin dan siap memimpin harus selalu menjadi dasar pijakan, terutama bagi organisasi gerakan .
Kalau ditanya suka dukanya selama menjadi seorang ketua umum itu jawaban relatif tergantung bagaimana orang tersebut memaknai sebuah kebahagian dan kesusahan dalam kehidupannya, menurut saya menyenangkan itu belum tentu bagi orang lain sama sebaliknya juga kesusahan bagi saya bisa saja itu malah menyenangkan bagi yang lainnya”.
Harus masak dulu setiap kali mau makan sudah menjadi kebiasaan kang Uyuhan
“Itu ga jadi masalah buat saya bukan suatu kesusahan karena memang hobi masak, sama kenapa saya sering bersihkan kamar mandi,piring gelas yang bekas pakai karena memang gak suka lihat yang berantakan dan kotor”.
Sebagai salah satu petugas fulltimer organisasi untuk mengurangi rasa dukanya karena gak bisa tiap hari ketemu bersama keluarga Herman punya kebiasaan kalau lagi di rumah belanja bareng keluarga kepasar terus membuat masakan kesukaan untuk anak istrinya waktu ditanya kenapa ? kata Herman
“Dengan pergi kepasar bareng keluarga saya jadi mengerti situasi ekonomi keluarga dan dengan membuat masakan kesukaan bersama keluarga adalah hal yang paling menyenangkan sehingga nilai ini bisa mengobati rasa duka karena tak bisa tiap hari bertemu mereka”.
Bagi Herman merasakan adanya suatu kebahagian yang tiada duanya bisa menjadi keluarga besar FPBI – KPR karena bisa memiliki banyak saudara “sejak aktif diorganisasi saya tidak pernah khawatir lagi mau kemana pun karena punya banyak saudara dimana-mana”. Herman lagi kepada SPB News.
Kesedihan itu datang mendera dalam batin seorang Herman bilamana mengetahui ada anggotanya mendapatkan tindakan PHK dari perusahaan yang kebanyakan akal-akalan.
“Sebagai seorang buruh yang pernah menjadi korban PHK tentu saya sangat bisa merasakan bagaimana menderitanya, karena bukan hanya sekedar kehilangan pekerjaan tapi lenyapnya harapan masa depan keluarga. Ujarnya.
Memang segala sesuatu, terutama menjemput kebenaran, pasti memiliki resiko, tapi jika resiko itu ditanggung renteng, maka sesungguhnya tidak ada yang berat, dan itu selalu jadi pakem herman ketika memimpin organiasasi yang terus berkembang dan tentu meminta konsokuensi kerja semakin bertambah. Tetapi Herman meyakini apapun bisa dapat diselesaikan dengan kolektifisme dan dengan semangat solidaritas itu menjadi modal awal dalam berjuang bagi herman.
Situasi hari ini memang berbeda dengan beberapa tahun belakangan, komitmen bersama untuk membesarkan organisasi menjadikan kita memiliki tugas yang lebih luas dan banyak. Karena kalau dulu kita hanya berfikir menjaga dinamika buruh disekitar Jabodetabek, kini kita turut menanggung tanggung jawab dinamika buruh senasional, dan itu kadang membuat saya jarang sekali bisa terlibat aktif di agenda-agenda tingkat perusahaan. Saya terkadang merasa seperti jauh dari kawan-kawan dibawah, tetapi itu konsekuensi dari kita mencoba menjadi organisasi buruh yang lebih kuat dan besar. Tetapi kalau kawan-kawan cabang dan perusahaan memiliki agenda dan dapat mengundang saya atau pengurus pusat, saya sangat bersedia untuk hadir dan saling bertukar pikiran. Kata herman bercerita tentang suka duka menjadi ketua umum.
Buruh harus siap memimpin gerakan rakyat.
Selain aktif dan menjadi ketua umum FPBI Herman juga terpilih dalam kongres pertama di lombok NTB menjadi ketua umum dari Front Politik, Kesatuan Perjuangan Rakyat (KPR) organisasi multi sektor sebagai wadah perjuangan gerakan rakyat dari berbagai sektor yaitu gerakan sektor Buruh, Tani, Mahasiswa, Pemuda, masyarakat desa, Miskin kota dll. Baginya perjuangan ini tak bisa dilakukan hanya oleh satu sektor saja
“Sistem ekonomi politik Kapitalisme dewasa ini telah merangsak masuk dan mencengkram kedalam setiap lini dari kehidupan masyarakat sehingga bukan hanya kaum buruh semata yang merasakan penindasan dan penghisapan tersebut tapi juga dirasakan oleh segenap massa rakya, untuk itu kaum buruh harus berani tampil kemuka siap memimpin dan berjuang bersama barisan massa rakyat”. Ulasan Herman dengan penuh semangat..
Sebagai seorang pimpinan organisasi buruh dan corong politik gerakan rakyat Herman tak pernah gentar aktif bersuara untuk menyampaikan tuntutan demi terwujudnya suatu kesejahteran umum yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Hal itu diperjuangkannya hingga saat ini. Ketika ditanya apa yang saat ini dibutuhkan dan harus diperjuangkan rakyat terkhusus front politik yang sedang di bangun,
“ Saat ini kita semua harus focus dan berjuang bersama untuk mendesak pemerintah supaya segera ; mewujudkan Jaminan Sosial Untuk Rakyat, membuka Ruang Demokrasi Untuk Rakyat, menghapuskan Hutang Luar Negeri, dan segera menyita Harta dan Asset Para Koruptor. kata Herman menyebutkan Empat Tuntutan Rakyat yang mendesak harus segera di penuhi pemerintah.
Kepada kawan-kawan buruh Herman berpesan supaya tak bosan bosannya terus belajar dan berjuang bersama untuk meningkatkan persepektif atau pola pikir perjuangan tidak boleh berhenti hanya sebatas pada perjuangan ekonomistis karena sejatinya tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada.
“Sesunguhnya situasi ekonomi yang tidak pernah perpihak terhadap kesejahteraan rakyat, adalah lahir dari kebijakan politik. Buruh tidak boleh buta politik tapi perlu mengerti dan memahami politik secara utuh supaya tidak terus menjadi korban kebijakan politik”. Tuntasnya pada SPB News.