Subscribe
FPBI | FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA – KESATUAN PERJUANGAN RAKYAT
  • HOME
  • OPINI
  • ADVOKASI
  • KEGIATAN
  • GALLERY
  • HOME
  • OPINI
  • ADVOKASI
  • KEGIATAN
  • GALLERY
No Result
View All Result
FPBI | FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA – KESATUAN PERJUANGAN RAKYAT

Turun ke Jalan Lawan Penggembosan May Day

by Suara Perjuangan Buruh
April 29, 2016
in Opini
300 22
1k
SHARES
5.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Opini karya : Herman “Beb”

IMG-20160429-WA0014
Sejak Pekan lalu, pemerintah mulai melakukan penggembosan terhadap aksi unjuk rasa buruh pada May Day atau Hari Buruh. Pemerintah mulai melakukan pendekatan persuasif melalu berbagai cara yang bermuara pada: Buruh jangan demo!
Melalui media massa, para pejabat menyerukan buruh menghindari unjuk rasa. Belakangan ini begitu gencar pemerintah melobi serikat pekerja untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa. Kepolisian dan Kementerian atau Dinas Tenaga Kerja menyediakan pengajian dengan menyewa ustadz terkenal, artis lokal hingga Rhoma Irama, dan hadiar door prize seperti motor untuk memancing acara gerak jalan. Di Bandung, walikota bahkan memberi biaya subsidi sopir dan BBM bagi bus jemputan karyawan dengan catatan buruh tidak boleh demo.
Semua rangkain acara di atas sekilas baik jika dilihat di permukaan karena pemerintah memfasilitasi buruh. Namun, dana-dana itu berujung untuk membunuh ruh perjuangan Hari Buruh.
Kenapa tidak memfasilitasi acara pengajiaan sebelum momentum peringatan Hari Buruh? Toh, setiap perjuangan buruh pasti diawali dengan doa dan kemungkinan berhasilnya akan tinggi. Kenapa bus jemputan mendapat subsidi jika tidak demo? Bukankah memang kewajiban pemerntah mensubsidi warga negara, terutama yang miskin, demi transportasi murah?
Artinya sangat nyata sekali upya pemerintah saat ini untuk mencegah bersatunya geraakan buruh, dengan beberapa tipu muslihatnya guna mengelabuhi buruh agar tidak terus menuntut kesejahteraan yang dirampas pengusaha.
Manakah yang lebih menguntungkan buruh secara jangka panjang? Hadiah jalan sehat SEPEDA MOTOR? Sekilas jika kita lihat hadiahnya pasti membuat mata kita sebagi kelas buruh silau dan tergiur. Tapi lebih besar mana jika kita mampu bergerak jalan bersama dengan seluruh element rakyat ke pusat-pusat pemerintahaan sambil membawa poster,spanduk tentang upah layak, dan penghapusan kontrak dan outsorcing, reforma agrarian, pendidikan dan kesehatan gratis,subsidi energy, kesetaraan gender dll?
Bukankah dengan perstuan gerak, kaum buruh mampu memperpendek jam kerja dari 12-16 jam menjadi 8 jam yang bisa kita nikamati sampai sekarang. Kesejahteraan itu jika digabung tentu nilainya jauh melebihi sepeda motor.
Sekilas Sejarah : May Day itu Unjuk Rasa!
Sekarang kita merasa kerja 8 jam adalah hal normal. Pada 1 Mei 1886, 400 ribu buruh di Amerika Serikat melakukan unjuk rasa besar-besaran menuntut pengurangan jam kerja dari semula 12 jam hingga 16 jam.
Unjuk rasa itu mengalami penindasan besar-besaran pada 4 Mei ketika polisi menembaki para demonstran. Kepolisian menangkap ratusan orang tewas dan pimpinan buruh dihukum mati. Di Indonesia May Day diperingati di era Sukarno sebagai hari hari libur nasional. Namun, karena alasan politik di era orde baru peringatan May Day dilarang. Sejarah perjuangan 8 jam dihilangkan. Bahkan cenderung membungkam gerakan buruh dalam menyuarakan tuntutan tentang kelayakan hidup. Imbasnya di Indonesia banyak pengusahan yang menerapakan jam kerja yang lebih panjang dan upah yang sangat minim. Melarang gerakan buruh merupakan upaya untuk melawan penindasan dari kaum pemodal.
Setelah rezim orde baru tumbang keberadaan serikat buruh mulai kembali menjamur, dan semangat perjuanganya dalam memperjuangkan kesehjahteraan. Alhasil, gelombang gelombang perlawanan terhadap pengusaha yang masih menerapkan jam kerja yang panjang dan membayar upah di bawah ketentutan terus dilakukan. Hari buruh kembali bergemuruh. Akhirnya, kekuatan buruh memaksa Presiden SBY menjadikan Hari Buruh sebagai libur nasional sejak 2014.
Berganti rezim, pemerintahan Jokowi justru condong mendekati pemerintahan Orde Baru. Mereka panik melihat persatuan yang semakin besar di kalangan buruh dalam gelora Hari Buruh. Hal ini ditandai dengan dijadikanya kawasn industry sebagai objek vital dan larangan unjuk rasa di kawasan-kawasan itu. Tidak hanya itu, pemerintah Jokowi, seperti dibeberkan di atas, mencoba memecah kekompakan gerakan buruh. Setelah ini, upaya apalagi yang digunakan pemerintahan saat ini guna meredam dan menjauhkan semangat may day dari benak buruh di momentum may day 2016?

Share408Tweet255Pin92Scan
Previous Post

Ini Bukti Demo Hari Buruh Bukan Bayaran

Next Post

FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA (FPBI)

Next Post

FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA (FPBI)

Tak Bayar UMP, Pengusaha Tekstil Jadi Buron

Comments 5

  1. irisantomat says:
    10 years ago

    Ijin share ya kang 🙂

    Reply
  2. Pingback: Turun ke Jalan Lawan Penggembosan May Day – Irisan Tomat
  3. dewitya says:
    10 years ago

    besok hari buruh tapi, hari minggu hahaha

    Reply
  4. Pingback: Turun ke Jalan Lawan Penggembosan May Day — FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA | kaumburuh
  5. Pingback: kaumburuh

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Pinterest


Taman Buaran Indah III - Blok D/5

Duren Sawit - Jakarta Timur

FPBI CALL CENTER

Call : (021) 86602636. WA : +62813-1703-4210

Jam operasional layanan call center :
Senin – Jum’at (kecuali libur nasional)
pukul 08.00 – 16.00 WIB

FPBI Call Center

Recent News

SELAMAT BERGABUNG DI KELUARGA BESAR FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA

June 27, 2024

FPBI Secara Tegas Tolak Kebijakan TAPERA

June 27, 2024

@2024 - FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
No Result
View All Result
  • Advokasi
  • Gallery
  • Home 1
  • Kegiatan
  • Opini

@2024 - FEDERASI PERJUANGAN BURUH INDONESIA