(Oleh : Redaksi FPBI)
10 April 2017
Jakarta – Hari Buruh pada umumnya dirayakan pada tanggal 1 Mei, dan dikenal dengan sebutan May Day. May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas buruh untuk meraih kendali ekonomi-politik dan hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas buruh.
Pemogokan pertama kelas buruh Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas buruh di Amerika Serikat. Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas buruh sedunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, juga memberikan semangat baru perjuangan kelas buruh yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
Di Indonesia, peringatan May Day juga di lakukan dari tahun ke tahun oleh kaum buruh yang juga mendapatkan dukungan dari gerakan rakyat lainnya. Menjelang peringatan May Day 2017 nanti, salah satu organisasi buruh di Indonesia yaitu FPBI-KPBI (Federasi Perjuangan Buruh Indonesia – Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) sudah menyatakan sikap akan menggerakkan seluruh struktur organisasinya untuk memaksimalkan peringatan May Day nanti.
Ketua Umum FPBI mengatakan bahwa sejatinya saat ini kelas buruh belum sepenuhnya sejahtera, sehingga penting untuk segera menyatakan sikap bahwa FPBI akan mengerahkan semua anggotanya terlibat dalam aksi May Day 2017. “Sejarah telah membuktikan bahwa kaum buruh pernah mendapatkan kemenangan terkait jam kerja sehingga wajib hukumnya bagi kaum buruh saat ini untuk meneruskan perjuangan mendapatkan kesejahteraan. Saya instruksikan kepada seluruh anggota FPBI di seluruh Indonesia untuk ikut turun aksi memperingati Hari Buruh Sedunia,” ujar Herman Abdulrohman.
Gerakan Buruh di Indonesia sejauh ini sudah mulai melakukan persiapan peringatan Mayday, karena 1 Mei 2017 hanya tinggal menghitung hari. Berbagai acara mulai dari diskusi, rapat akbar, kampanye May Day, aksi prakondisi, dll sudah di gelar oleh hampir semua gerakan buruh khususnya FPBI.
Herman Abdulrohman menambahkan bahwa ekonomi politik di Indonesia masih dalam cengkeraman sistem kapitalisme, seluruh sektor rakyat sedang mengalami ketertindasan. “Pada peringatan hari buruh nanti, suatu keharusan bagi seluruh rakyat untuk ikut terlibat bersama kaum buruh dalam memperjuangakan kesejahteraan, serta segera membangun kekuatan politik alternatif yang lahir dari rahim rakyat. Dalam peringatan Mayday nanti, FPBI juga akan turun aksi baik sebelum 1 Mei yaitu Aksi prakondisi bersama Komite Perjuangan Rakyat (KPR), serta Aksi 2 Mei bersama kawan-kawan Mahasiswa dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional,” tambah Herman Abdulrohman yang juga sebagai Sekretaris Umum KPR.
Pada peringatan 1 Mei nanti, FPBI-KPBI akan turun aksi bersama seluruh gerakan rakyat lainnya. Selain berbicara persoalan buruh yaitu terkait Upah dan Sistem Kerja, Kaum Buruh juga akan berbicara tentang persoalan rakyat secara umum yaitu terkait pendidikan, kesehatan, agraria, dll. (**as**)

Hidup Buruh !!
Bersatulah Kaum Buruh Sedunia !!
“Belajar, Berjuang, dan Berkuasa untuk Kemerdekaan 100%”