(Oleh : Redaksi FPBI)
16 Mei 2017
Kota Bekasi – Hari ini Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI-KPBI) mengadakan agenda diskusi publik dengan tema ‘Analisa Dampak Kenaikan Listrik terhadap Rakyat dan Ekonomi Indonesia’. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk respon terhadap kebijakan pencabutan subsidi yang berdampak pada kenaikan tarif dasar listrik.
Salah satu pembicara dalam diskusi ini menyampaikan bahwa kebijakan kenaikan TDL memiliki historis yang cukup panjang sejak Indonesia menandatangani perjanjian pasar bebas saat orde baru. “Indonesia terjerat hutang yang cukup banyak sejak orde baru. Sehingga dampaknya saat ini adalah pemerintah melakukan pencabutan subsidi, salah satunya adalah subsidi energi dengan adanya kenaikan TDL,” ujar Olisias Gultom, salah satu Aktivis 98.

Diskusi publik ini di selenggarakan di RM Wulan Sari Kota Bekasi. Hadir puluhan anggota FPBI dari berbagai PTP (Pimpinan Tingkat Perusahaan).
Ketua Umum FPBI juga menyampaikan bahwa apapun alasannya, tidak bisa di benarkan jika pemerintah melakukan pencabutan subsidi karena sejatinya rakyat yang akan menjadi korban khususnya kaum buruh. “Upah buruh masih belum mencukupi untuk kebutuhan hidup layak. Kenaikan TDL akan semakin mencekik kaum buruh kedepannya,” ungkap Herman Abdurrahman.
Herman Abdurrahman menambahkan bahwa buruh dan rakyat harus segera melakukan respon terkait hal ini. Jika di diamkan maka kesejahteraan bagi seluruh buruh dan rakyat Indonesia akan semakin jauh untuk di peroleh. FPBI bersama Komite Perjuangan Rakyat (KPR) pada tanggal 18 Mei 2017 akan turun aksi melakukan respon penolakan kenaikan tarif dasar listrik.
Hadir juga beberapa organisasi lain dalam agenda diskusi publik ini, seperti unsur dari FBKB (Forum Buruh Kota Bekasi), SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia) Cabang Jakarta, SPKAJ (Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek), dan ada juga organisasi perempuan. (**as**)

