(Oleh : Redaksi FPBI)
22 April 2017
Sejarah May Day adalah sejarah perjuangan menuntut berkurangnya jam kerja yang sangat panjang, sehingga buruh saat itu tidak memiliki waktu untuk keluarga, bersosialisasi dan istirahat. Perjuangan selama bertahun-tahun tersebut akhirnya membuahkan hasil yang bisa kita nikmati saat ini yaitu 8 jam kerja sehari, 8 jam sosialisasi dan 8 jam istirahat. Kemenangan tersebut tidak seharusnya kita lupakan, tetapi harus menjadi pemicu semangat untuk terus melanjutkan perjuangan buruh demi kesejahteraan buruh dan keluarganya. Kenapa demikian? Karena kondisi buruh saat ini tidak lebih baik dari kondisi buruh masa lalu. Justru semakin ditekan oleh sistem yang ada, baik dari sisi hukum perburuhanya, birokrasinya, sampai pengusahanya.
Sistem kerja kontrak dan outsourching yang tidak memberikan kepastian kerja bagi buruh dan upah yang rendah terus dilanggengkan oleh pengusaha dan pemerintah. Disisi lain harga-harga barang yang semakin melonjak tinggi, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, akan semakin menyengsarakan kaum buruh dan keluarganya. Dengan sistem kerja kontrak dan outsourching, serta upah yang rendah, buruh tidak dapat merencanakan kehidupan keluarganya untuk menjadi lebih baik dan lebih sejahtera.
Kondisi yang buruk ini sangat disadari oleh buruh dan keluarganya yang tidak akan pernah berubah jika kita hanya diam dan terlena dengan kesenangan semu, maka momentum May Day adalah moment yang tepat untuk menyuarakan hak pada negara, menuntut negara untuk berpihak pada buruh dan rakyat.
Jelang peringatan Hari Buruh Sedunia, ada fenomena yang cukup menggelitik mata kita. Banyak spanduk yang terpasang di kawasan industri yang menghimbau bahwa kaum buruh pada 1 Mei nanti lebih baik pergi liburan. Hal ini sangat jelas merupakan skema yang di atur oleh rezim agar kaum buruh tidak turun aksi pada peringatan May Day. Sebagai kaum buruh yang menyadari bahwa sampai saat ini kita belum sejahtera, penting bagi kita semua untuk mempersiapkan diri dalam perjuangan memperingati Hari Buruh Sedunia dengan aksi turun ke jalan, bukan persiapan pergi liburan.
Dalam peringatan May Day 2017, kita akan menyuarakan semua tuntutan kaum buruh, seperti persoalan upah, sistem kerja, pencabutan PP 78, dan lain sebagainya. Selain itu aksi hari buruh nanti juga akan berbicara persoalan rakyat secara luas, yaitu persoalan pendidikan, kesehatan, agraria, dan lain-lain. Hal ini didasari karena seluruh sektor rakyat Indonesia masih mengalami ketertindasan. Semua kebijakan yang di buat oleh pemerintah hanya menguntungkan kaum pemodal. Karena itulah jalan keluar bagi kita semua adalah dengan memperkuat persatuan rakyat untuk melawan koorporasi dan kebijakan anti rakyat.
May Day bukanlah hari libur bagi buruh, tetapi May Day adalah hari perjuangan buruh bersama rakyat. Kesejahteraan buruh adalah kesejahteraan keluarga.
**Penulis Singkat : Yuni Fitri (Staf DPP PP-FPBI)



